Close
News And Articles 27/07/2026

Enak, Tapi Tinggi Gula! Kenali Bahaya Konsumsi Gula Berlebih dari Minuman Kekinian

Enak, Tapi Tinggi Gula! Kenali Bahaya Konsumsi Gula Berlebih dari Minuman Kekinian

Medically Reviewed by: dr Aditya Nugroho - Health Communicator Kalbe Nutritionals

 

Ringkasan

  • Minuman kekinian umumnya mengandung gula tambahan dalam jumlah banyak. Jika terlalu sering atau dikonsumsi secara berlebihan, minuman ini dapat meningkatkan asupan kalori, menyebabkan lonjakan gula darah, serta meningkatkan risiko obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2, dan berbagai penyakit kronis lainnya.

  • Meski begitu, Anda tidak perlu menghindari minuman manis favorit sepenuhnya. Dengan memilih jumlah gula yang lebih sedikit, memesan porsi yang lebih kecil, membatasi topping manis, atau menggunakan pemanis nol kalori (zero calorie), Anda tetap dapat menikmati minuman manis sebagai bagian dari pola makan yang lebih sehat.

 

Es kopi susu, matcha latte, boba milk tea, minuman bersoda, hingga aneka minuman kekinian telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa satu gelas minuman tersebut dapat mengandung gula tambahan dalam jumlah yang banyak. 

Minuman manis umumnya mengandung gula tambahan dalam jumlah yang tinggi. Konsumsi gula tambahan tersebut dapat meningkatkan asupan kalori harian, tetapi hanya memberikan sedikit zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Selain itu, kalori dari minuman manis juga tidak memberikan rasa kenyang seperti makanan padat. Akibatnya, seseorang cenderung tetap makan dalam jumlah yang sama meskipun sudah memperoleh tambahan kalori dari minuman.

Nah, meski rasanya enak, terlalu sering mengonsumsi minuman manis dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Simak ulasan berikut, ya.

BACA JUGA: Jangan Asal Ngemil! Ini Kriteria Camilan Manis yang Cocok untuk Teman Kerja

Apa Bahaya Terlalu Sering Mengonsumsi Minuman Kekinian Tinggi Gula?

Minuman kekinian umumnya menggunakan gula pasir, sirup, gula cair, atau bahan pemanis lainnya untuk memberikan rasa manis. Jika terlalu sering dikonsumsi atau dalam jumlah berlebihan, minuman ini dapat menimbulkan berbagai dampak bagi kesehatan, antara lain:

1. Memicu Kenaikan Gula Darah

Minuman manis yang mengandung gula tambahan umumnya cepat diserap oleh tubuh sehingga kadar gula darah dapat meningkat dalam waktu singkat. Sebagai respons, pankreas akan memproduksi lebih banyak insulin untuk membantu menurunkan kadar gula darah.

Jika kondisi ini terus terjadi dalam jangka panjang, tubuh dapat menjadi kurang sensitif terhadap insulin (resistensi insulin). Akibatnya, risiko terjadinya diabetes tipe 2 pun dapat meningkat.

2. Menambah Asupan Kalori Tanpa Disadari

Berbeda dengan makanan padat, kalori dari minuman manis tidak memberikan rasa kenyang yang optimal. Akibatnya, Anda cenderung tetap makan dalam jumlah yang sama meskipun sudah memperoleh tambahan kalori dari minuman.

Jika kebiasaan ini terus berlangsung, asupan kalori harian dapat menjadi berlebihan sehingga meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan obesitas.

3. Meningkatkan Risiko Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik adalah kumpulan kondisi yang meliputi lingkar perut berlebih, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, serta gangguan kadar lemak atau kolesterol dalam darah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2023 di jurnal Nutrients menunjukkan bahwa orang yang sering mengonsumsi minuman manis memiliki risiko sekitar 20% lebih tinggi mengalami sindrom metabolik dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumsi minuman tinggi gula secara rutin dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan metabolik.

4. Meningkatkan Risiko Berbagai Penyakit Kronis

Sering mengonsumsi minuman manis dengan gula tambahan juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Hal ini diduga karena asupan gula yang berlebihan dapat mengganggu proses metabolisme tubuh dan memicu berbagai perubahan yang berdampak pada kesehatan.

Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2023 di jurnal Nutrients menunjukkan bahwa konsumsi sugar-sweetened beverages (SSBs) atau minuman manis berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis.

Beberapa penyakit yang paling sering dikaitkan dengan konsumsi minuman tinggi gula antara lain penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes tipe 2, serta penyakit hati berlemak nonalkohol. Beberapa penelitian juga menemukan kaitan dengan peningkatan risiko batu ginjal dan depresi, meskipun hubungan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

BACA JUGA: Apa yang Terjadi Pada Tubuh Saat Kita Konsumsi Makanan & Minuman Manis?

Cara Aman Selingkuh Sama yang Manis-Manis

perempuan sedang minum matcha

Image: magnific 

Anda tidak perlu berhenti menikmati minuman kekinian favorit. Dengan mengatur porsi dan frekuensi konsumsinya, Anda tetap bisa menikmatinya sebagai bagian dari pola makan yang lebih sehat. Berikut beberapa cara sederhana yang dapat Anda lakukan.

  • Pilih Opsi Less Sugar 

Banyak gerai minuman kini menyediakan pilihan kadar gula, seperti 25%, 50%, atau tanpa tambahan gula. Jika baru mulai mengurangi konsumsi gula, lakukan secara bertahap agar lidah dapat beradaptasi dengan rasa yang tidak terlalu manis.

  • Pilih Ukuran Gelas yang Lebih Kecil

Semakin besar ukuran minuman, umumnya semakin tinggi pula kandungan gula dan kalorinya. Memilih ukuran reguler atau kecil dapat membantu mengurangi asupan gula dan kalori dari minuman.

  • Batasi Topping Manis

Boba, jelly, pudding, whipped cream, dan saus karamel dapat menambah kandungan gula dalam minuman. Jika ingin membatasi asupan gula, pilih topping secukupnya atau kurangi topping yang tinggi gula.

Ingin Tetap Minum yang Manis? Coba Beralih ke Pemanis Zero Calorie

Nulife

Jika ingin tetap menikmati minuman manis tanpa menambah asupan gula berlebih, Anda dapat mempertimbangkan untuk menggunakan pemanis zero calorie. Dibandingkan gula pasir, pemanis ini dapat memberikan rasa manis tanpa menambah asupan gula maupun kalori harian.

Salah satu contohnya adalah Nulife Sweetener. Pemanis zero calorie ini dapat digunakan untuk berbagai jenis minuman, mulai dari kopi, teh, matcha, hingga minuman favorit lainnya. 

Rasanya tetap manis dengan nol kalori, sehingga cocok bagi Anda yang sedang berusaha mengurangi konsumsi gula tanpa mengurangi kenikmatan minuman favorit.

Dengan membatasi konsumsi gula tambahan, memilih ukuran minuman yang lebih kecil, mengurangi topping manis, dan menggunakan pemanis zero calorie seperti Nulife Sweetener, Anda tetap dapat menikmati minuman kekinian sebagai bagian dari pola makan yang lebih sehat.

Jadi, kalau sesekali ingin "Selingkuh Sama yang Manis-Manis", jangan lupa tetap atur jumlah dan frekuensi konsumsinya, serta jalani pola hidup yang seimbang. Enjoy Aja! Why Not? Kan Ada DIA.

 


FAQ

Apakah minuman kekinian harus dihindari sepenuhnya?

Tidak. Minuman kekinian tetap boleh dikonsumsi sesekali. Yang terpenting adalah membatasi frekuensi konsumsi, memilih ukuran yang lebih kecil, mengurangi kadar gula, serta tidak mengonsumsinya terlalu sering.

Mengapa minuman manis bisa meningkatkan risiko kenaikan berat badan?

Minuman manis umumnya mengandung gula tambahan dan kalori yang tinggi, tetapi tidak memberikan rasa kenyang seperti makanan padat. Akibatnya, seseorang cenderung tetap makan dalam jumlah yang sama meskipun sudah memperoleh tambahan kalori dari minuman, sehingga total asupan kalori menjadi berlebih.

Apa dampak jika terlalu sering mengonsumsi gula dari minuman?

Mengonsumsi minuman manis akan meningkatkan kadar gula darah. Jika terlalu sering atau dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Apakah Nulife Sweetener cocok digunakan untuk semua jenis minuman?

Ya. Nulife Sweetener dapat digunakan untuk berbagai jenis minuman, seperti kopi, teh, matcha, cokelat, maupun minuman panas dan dingin, sehingga praktis bagi Anda yang ingin mengurangi konsumsi gula.

Bagaimana cara menikmati minuman manis tanpa konsumsi gula berlebihan?

Anda dapat memilih minuman dengan tingkat kemanisan yang lebih rendah (less sugar), memilih ukuran gelas yang lebih kecil, membatasi topping manis, atau menggunakan pemanis zero calorie sebagai pengganti gula.


 

Referensi

  • World Health Organization. (2023, 9 Agustus). Reducing consumption of sugar-sweetened beverages to reduce the risk of unhealthy weight gain in adults. https://www.who.int/tools/elena/interventions/ssbs-adult-weight

  • Lane, M. M., Travica, N., Gamage, E., Marshall, S., Trakman, G. L., Young, C., Teasdale, S. B., Dissanayaka, T., Dawson, S. L., Orr, R., Jacka, F. N., O'Neil, A., Lawrence, M., Baker, P., Rebholz, C. M., Du, S., & Marx, W. (2024). Sugar-sweetened beverages and adverse human health outcomes: An umbrella review of meta-analyses of observational studies. Annual Review of Nutrition, 44(1), 383–404. https://doi.org/10.1146/annurev-nutr-062322-020650

  • He, B., Long, W., Li, X., Yang, W., Chen, Y., Zhu, Y., & Wang, Y. (2023). Association between sugar-sweetened beverage consumption and metabolic syndrome among adults: A systematic review and meta-analysis. Nutrients, 15(2), Article 430. https://doi.org/10.3390/nu15020430.

  • Singh, A., Kumar, A., & Sharma, P. (2024). The sweet danger: Decoding the impact of sugar-sweetened beverages on health. Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews. Advance online publication. https://doi.org/10.1007/s40200-024-01396-5.


Konsultasi Diabetes

Konsultasi Diabetes

Temukan solusi bersama ahli.