Medically Reviewed by: dr Aditya Nugroho - Healthcare Communicator Kalbe Nutritionals
Ringkasan
Lonjakan gula darah setelah makan merupakan hal yang normal karena tubuh memecah karbohidrat menjadi glukosa yang kemudian digunakan sebagai energi dengan bantuan insulin.
Pada orang sehat, kadar gula darah 2 jam setelah makan umumnya berada di bawah 140 mg/dL, meski dapat berbeda tergantung usia, aktivitas, serta makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Lonjakan perlu diwaspadai jika kadar gula darah melebihi batas normal, tidak segera turun, terjadi berulang, atau disertai gejala seperti sering haus, mudah lelah, dan penglihatan kabur. Pemeriksaan gula darah rutin atau tes HbA1c dapat membantu memastikannya.
Menjaga gula darah tetap stabil setelah makan dapat dimulai dari pemilihan makanan dan pola makan yang tepat, seperti memilih makanan berindeks glikemik rendah dan mengatur porsi. Selain itu, Anda juga perlu aktif setelah makan, mencukupi cairan, dan memantau kadar gula darah secara berkala. Asupan nutrisi yang tepat juga berperan penting dalam membantu menjaga kestabilan gula darah.
Khawatir dengan gula darah melonjak setelah makan?
Makanan dan minuman yang Anda konsumsi dapat memengaruhi kenaikan kadar gula darah. Setelah makan, sistem pencernaan akan memecah karbohidrat menjadi glukosa yang kemudian masuk ke dalam aliran darah.
Hormon insulin kemudian membantu glukosa masuk ke dalam sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai sumber energi, sekaligus menjaga kadar gula darah tetap dalam batas normal.
Namun, kapan lonjakan gula darah setelah makan dianggap normal atau justru perlu diwaspadai?

Image: Freepik
Kadar gula darah setelah makan, atau disebut kadar gula darah postprandial, merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan metabolik. Pada orang sehat, kadar gula darah 2 jam setelah makan umumnya berada di bawah 140 mg/dL, sedangkan pada penderita diabetes biasanya ditargetkan di bawah 180 mg/dL.
Selain kondisi individu, kadar gula darah juga sangat dipengaruhi oleh jenis dan komposisi makanan yang dikonsumsi. Makanan dengan indeks glikemik tinggi, seperti nasi putih, roti putih, olahan tepung, atau makanan manis, dapat menyebabkan peningkatan gula darah yang lebih cepat setelah makan.
Sebaliknya, makanan dengan indeks glikemik lebih rendah seperti nasi merah, kacang-kacangan, sayuran hijau, serta makanan yang tinggi protein cenderung dicerna lebih lambat sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Sebagai gambaran, berikut ini kisaran kadar gula darah berdasarkan kondisi kesehatan individu. Nilai ini digunakan sebagai acuan umum dalam membantu diagnosis diabetes dan prediabetes.
|
Kondisi |
HbA1c (%) |
Glukosa Darah Puasa (mg/dL) |
Glukosa Plasma 2 Jam Setelah TTGO (mg/dL) |
|
Normal |
< 5,7 |
70-99 |
70-139 |
|
Prediabetes |
5,7–6,4 |
100-125 |
140-199 |
|
Diabetes |
≥ 6,5 |
≥ 126 |
≥ 200 |
Pemeriksaan HbA1c menunjukkan rata-rata kadar gula darah dalam 2-3 bulan terakhir, sehingga sering digunakan sebagai indikator utama dalam diagnosis diabetes. Sementara itu, pemeriksaan gula darah puasa dan tes 2 jam setelah makan membantu melihat bagaimana tubuh merespons asupan glukosa secara langsung.
Perlu diingat, hasil pemeriksaan ini tetap harus dikonsultasikan dengan tenaga medis karena diagnosis tidak hanya ditentukan dari satu jenis tes saja, tetapi juga mempertimbangkan gejala dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Lonjakan gula darah setelah makan merupakan hal yang normal, karena tubuh mengubah karbohidrat menjadi glukosa yang kemudian digunakan sebagai sumber energi. Biasanya, kadar gula darah akan meningkat dalam 1-2 jam setelah makan, lalu berangsur turun kembali.
Namun, kondisi ini perlu diwaspadai jika kadar gula darah tidak kembali ke rentang normal atau justru tetap tinggi.
Secara umum, Anda perlu lebih berhati-hati jika:
Kadar gula darah mencapai atau melebihi 140 mg/dL dalam 1-2 jam setelah makan
Gula darah tidak kembali turun setelah beberapa jam
Lonjakan terjadi secara berulang atau konsisten
Disertai gejala gula darah tinggi, seperti rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, mudah lelah, sering lapar, sakit kepala, atau penglihatan kabur
Apabila Anda mengalami satu atau beberapa kondisi di atas, sebaiknya lakukan pemeriksaan gula darah untuk memastikan kondisinya. Pemeriksaan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan atau menggunakan alat tes gula darah mandiri di rumah.
Untuk mengetahui gambaran kadar gula darah dalam jangka panjang, Anda dapat melakukan pemeriksaan (HbA1c) di laboratorium. Tes ini membantu menunjukkan rata-rata kadar gula darah dalam jangka 3 bulan terakhir.
Mengontrol lonjakan gula darah setelah makan dapat dilakukan dengan dengan beberapa langkah berikut:
Pilih karbohidrat dengan indeks glikemik rendah atau sedang, seperti nasi merah (GI=47) atau ubi jalar (GI=44-68).
Mengonsumsi karbohidrat bersama protein dan lemak dapat membantu memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan glukosa, sehingga kenaikan gula darah terjadi lebih bertahap.
Perhatikan porsi makan dan hindari makan berlebihan dalam satu waktu.
Lakukan aktivitas ringan setelah makan, seperti berjalan kaki selama 10 menit, untuk membantu menurunkan kadar gula darah.
Pantau gula darah secara rutin agar Anda dapat mengenali pola perubahan kadar gula darah dari waktu ke waktu.
Cukupi kebutuhan cairan, karena dehidrasi dapat membuat kadar gula darah tampak lebih tinggi akibat peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah.

Selain itu, pemilihan asupan nutrisi yang tepat juga dapat membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil. Anda dapat melengkapi kebutuhan nutrisi harian dengan mengonsumsi Diabetasol Milk yang diformulasikan sebagai nutrisi lengkap dengan indeks glikemik rendah.
Diabetasol Milk diperkaya dengan Vita Digest yang membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan. Diabetasol Milk dapat dikonsumsi 2 kali sehari, masing-masing sebanyak 4 sendok takar sesuai anjuran penyajian.
Diabetasol Milk dapat dinikmati dalam keadaan hangat atau diolah menjadi smoothies dengan tambahan buah berindeks glikemik rendah seperti pisang dan strawberry, sehingga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama dan menjaga energi tetap stabil.
Beberapa kandungan nutrisi yang terdapat dalam Diabetasol Milk antara lain:
Isomaltulosa, karbohidrat lepas lambat yang membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan memberikan rasa kenyang lebih lama. Kandungan ini menjadi bagian dari formulasi Diabetasol Milk yang memiliki indeks glikemik rendah (GI=44)
Vitamin A, C, dan E serta zinc untuk membantu menjaga daya tahan tubuh
Sumber serat untuk mendukung kesehatan pencernaan
Protein dengan whey berkualitas tinggi yang lebih mudah dicerna tubuh
Rendah laktosa
Tanpa penambahan gula pasir
Bebas gluten
Kombinasikan pola makan tepat dan gaya hidup sehat, lonjakan gula darah setelah makan dapat lebih terkontrol. Tubuh tetap berenergi sepanjang hari tanpa khawatir lonjakan gula darah? Why Not? Kan Ada DIA.
FAQ
Kadar gula darah normal 2 jam setelah makan umumnya di bawah 140 mg/dL pada orang dewasa yang sehat. Namun, pada lansia atau penderita kondisi tertentu, batasnya bisa lebih tinggi.
Tidak. Lonjakan gula darah ringan setelah makan merupakan respons normal tubuh. Namun, kondisi ini perlu diwaspadai jika kadarnya terlalu tinggi, tidak kembali turun, atau terjadi secara berulang.
Kadar gula darah umumnya akan kembali mendekati normal dalam waktu sekitar 2–3 jam setelah makan. Jika tetap tinggi lebih lama dari itu, hal ini dapat menjadi tanda adanya gangguan metabolisme glukosa dan sebaiknya segera diperiksakan ke tenaga medis.
Kadar gula darah mencapai 180 mg/dL setelah makan tergolong cukup tinggi. Pada orang sehat, kadar gula darah 2 jam setelah makan umumnya berada di bawah 140 mg/dL.
Namun, pada kondisi tertentu, misalnya dalam 1-2 jam pertama setelah makan atau pada penderita diabetes angka ini masih bisa terjadi. Yang perlu diperhatikan bukan hanya angkanya, tetapi juga polanya.
Jika kadar gula darah dapat kembali turun dalam beberapa jam, kondisi ini masih dapat ditoleransi. Sebaliknya, jika tetap tinggi, sering terjadi, atau disertai gejala seperti sering haus, mudah lelah, dan sering buang air kecil, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Berjalan kaki ringan selama 10-15 menit setelah makan
Minum air putih untuk membantu menjaga hidrasi, sehingga gula darah tidak tampak lebih tinggi pada saat pemeriksaan
Menghindari konsumsi makanan manis tambahan setelah makan
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Mengontrol porsi makan
Memilih makanan dengan indeks glikemik rendah
Mengombinasikan karbohidrat dengan protein dan lemak
Tetap aktif secara fisik setelah makan
Referensi
Hantzidiamantis PJ, Awosika AO, Lappin SL. Physiology, Glucose. [Updated 2024 Apr 30]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545201/
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2024). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2024 (PB PERKENI, Ed.).
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2025). Diakses 7 April 2026, dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4039/diabetes-bisa-dicegah-yuk-
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2024). Diakses 7 April 2026, dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3105/pola-makan-yang-dianjurkan-untuk-pasien-diabetes-melitus
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (n.d.-d). Retrieved April 21, 2026, from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4047/pentingnya-pemeriksaan-hba1c
Diyah, N. W., et al. (2016). Evaluasi Kandungan Glukosa Dan Indeks Glikemik Beberapa Sumber Karbohidrat Dalam Upaya Penggalian Pangan Ber-Indeks Glikemik Rendah. Jurnal Farmasi Dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 3(2), 67-73. https://doi.org/10.20473/jfiki.v3i22016.67-73
Medical News Today. (2019). Slow-release carbs list. Diakses 8 April 2026, dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/325586
Sumara, R., Wibowo, N., Sumarliyah, E., & Nisa, L. (2023, January 31). Pemanfaatan Herbal :Ubi Jalar Ungu (Ipomoea Batatas L.) Rebus Sebagai Makanan Selingan Dalam Menurunkan Kadar Glukosa Darah Pasien Diabates Mellitus Tipe II Di Desa Paciran Lamongan. Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan, 7(1), 34-39. https://doi.org/https://doi.org/10.33655/mak.v7i1.159
Nagy, S., Turner, L. V., & Riddell, M. C. (2026). Effects of protein intake on glucagon, insulin, and glucose dynamics: implications for diabetes. Frontiers in clinical diabetes and healthcare, 6, 1712506. https://doi.org/10.3389/fcdhc.2025.1712506
Diana Gentilcore, Reawika Chaikomin, Karen L. Jones, Antonietta Russo, Christine Feinle-Bisset, Judith M. Wishart, Christopher K. Rayner, Michael Horowitz, Effects of Fat on Gastric Emptying of and the Glycemic, Insulin, and Incretin Responses to a Carbohydrate Meal in Type 2 Diabetes, The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, Volume 91, Issue 6, 1 June 2006, Pages 2062–2067, https://doi.org/10.1210/jc.2005-2644
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2021). Pedoman Pemantauan Glukosa Darah Mandiri - 2021. PB. PERKENI. https://pbperkeni.or.id/wp-content/uploads/2021/11/22-10-21-Website-Pedoman-Pemantauan-Glukosa-Darah-Mandiri-Ebook.pdf
Hashimoto, K., Dora, K., Murakami, Y. et al. Positive impact of a 10-min walk immediately after glucose intake on postprandial glucose levels. Sci Rep 15, 22662 (2025). https://doi.org/10.1038/s41598-025-07312-y