Close
News And Articles 30/09/2026

Whey Protein dan Rasa Kenyang: Bagaimana Protein Membantu Mengendalikan Keinginan untuk Makan?

Whey Protein dan Rasa Kenyang: Bagaimana Protein Membantu Mengendalikan Keinginan untuk Makan?

Pernah merasa lebih kenyang setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung protein? Hal ini bukan sekadar karena protein membuat perut terasa lebih “terisi”. Protein juga dapat memengaruhi berbagai sinyal di dalam tubuh yang membantu mengatur rasa lapar dan kenyang.

Salah satu jenis protein yang banyak diteliti adalah whey protein, yaitu protein yang berasal dari susu. Penelitian menunjukkan bahwa whey protein dapat memengaruhi hormon yang diproduksi oleh saluran pencernaan setelah makan. Hormon-hormon ini kemudian membantu tubuh mengatur rasa kenyang dan keinginan untuk makan.

Apa yang Terjadi Setelah Mengonsumsi Whey Protein?

Salah satu penelitian membandingkan efek whey protein dan casein terhadap rasa lapar serta beberapa hormon yang berkaitan dengan rasa kenyang.

Penelitian tersebut melibatkan 5 orang dewasa sehat. Setelah berpuasa semalam, peserta mendapatkan minuman yang mengandung 8 gram whey protein atau 8 gram kasein, bersama dengan 1 gram glucomannan. Kedua perlakuan diberikan pada waktu yang berbeda dengan jeda satu minggu.

Hasilnya menarik. Setelah mengonsumsi whey protein, keinginan untuk makan menurun secara signifikan setelah sekitar 90 menit dibandingkan dengan kasein.

Dengan kata lain, dalam penelitian ini, whey protein menunjukkan efek yang lebih cepat terhadap rasa kenyang dalam jangka pendek.

Whey Protein dan Hormon Kenyang

Salah satu hormon yang diamati dalam penelitian ini adalah GLP-1 (glucagon-like peptide-1).

GLP-1 merupakan hormon yang diproduksi oleh saluran pencernaan setelah makan dan berperan dalam membantu memberikan sinyal kenyang kepada tubuh. Baca selengkapnya tentang GLP-1 dalam artikel Mengenal Apa Itu GLP-1 dan Peran Inulin Bagi Tubuh?

Pada peserta yang mengonsumsi whey protein, kadar GLP-1 meningkat secara signifikan setelah 90 menit. Menariknya, penelitian juga menemukan hubungan yang kuat antara peningkatan GLP-1 dengan berkurangnya keinginan untuk makan.

Respons terhadap kasein terlihat lebih lambat. Peningkatan GLP-1 yang signifikan pada kelompok casein baru terlihat setelah sekitar 180 menit.

Bagaimana dengan Hormon Kenyang Lainnya?

Penelitian juga mengukur CCK (cholecystokinin) dan PYY (peptide YY), yang juga berhubungan dengan pengaturan nafsu makan.

Setelah konsumsi whey protein, kadar CCK cenderung meningkat pada sekitar 90 menit, tetapi peningkatan tersebut belum mencapai tingkat yang signifikan secara statistik.

Sementara itu, tidak ditemukan perubahan signifikan pada kadar PYY setelah konsumsi whey protein maupun kasein.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam penelitian tersebut, GLP-1 merupakan respons hormon yang paling jelas terlihat setelah konsumsi whey protein dosis rendah.

BACA JUGA: Protein, GLP-a, dan PYY: Bagaimana Protein Memengaruhi Sinyal Kenyang?

Mengapa Whey Protein Dapat Memberikan Respons yang Lebih Cepat?

Whey protein dan kasein memiliki karakteristik pencernaan yang berbeda.

Whey protein umumnya dicerna dan diserap lebih cepat, sehingga asam amino dari whey lebih cepat tersedia di dalam tubuh. Sebaliknya, kasein cenderung dicerna lebih lambat karena dapat menggumpal di dalam lambung.

Perbedaan kecepatan pencernaan ini diduga menjadi salah satu alasan mengapa respons terhadap whey protein, termasuk peningkatan GLP-1 dan penurunan keinginan untuk makan, terlihat lebih awal dibandingkan kasein.

Menariknya, efek ini terlihat dengan protein dalam jumlah relatif rendah

Penelitian sebelumnya yang dibahas oleh peneliti umumnya menggunakan whey protein dalam jumlah sekitar 20–40 gram untuk mempelajari efeknya terhadap rasa kenyang. Penelitian ini mencoba melihat apakah jumlah yang lebih rendah juga dapat memberikan respons.

Hasilnya menunjukkan bahwa 8 gram whey protein dalam campuran yang diuji sudah disertai dengan penurunan keinginan untuk makan dan peningkatan GLP-1.

Namun, perlu diperhatikan bahwa produk yang digunakan dalam penelitian bukan hanya mengandung whey protein. Campuran tersebut juga mengandung glucomannan, serat yang dapat mengembang dan membentuk gel di dalam lambung. Oleh karena itu, hasil penelitian ini sebaiknya dipahami sebagai efek dari campuran whey protein dan glucomannan, bukan whey protein saja.

BACA JUGA: Isomaltulosa dan GLP-1: Bagaimana Karbohidrat yang Dicerna Lebih Lambat Memengaruhi Respons Tubuh Setelah Makan?

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa whey protein dapat membantu mendukung rasa kenyang melalui sinyal dari saluran pencernaan.

Pada penelitian tersebut, konsumsi whey protein dosis rendah dikaitkan dengan peningkatan GLP-1 sekitar 90 menit setelah konsumsi, bersamaan dengan penurunan keinginan untuk makan.

Namun, penelitian ini masih bersifat awal. Jumlah pesertanya sangat kecil, hanya 5 orang, dan efek yang diamati merupakan respons jangka pendek setelah satu kali konsumsi. Oleh karena itu, hasil ini belum dapat diartikan bahwa whey protein secara langsung menyebabkan penurunan berat badan atau pasti mengurangi asupan kalori dalam jangka panjang.

Kesimpulan

Whey protein tidak hanya berperan sebagai sumber protein. Setelah dikonsumsi, whey dapat memengaruhi sinyal kenyang dari saluran pencernaan.

Dalam penelitian ini, whey protein dosis rendah dikaitkan dengan peningkatan GLP-1 dan penurunan keinginan untuk makan dalam waktu sekitar 90 menit. Temuan ini menunjukkan bahwa whey protein berpotensi membantu mendukung pengendalian nafsu makan dan rasa kenyang, meskipun masih diperlukan penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar untuk memastikan manfaat tersebut.

 

Referensi:Sukkar, S. G., Vaccaro, A., Ravera, G. B., Borrini, C., Gradaschi, R., Massa Sacchi-Nemours, A., Cordera, R., & Andraghetti, G. (2013). Appetite control and gastrointestinal hormonal behavior (CCK, GLP-1, PYY 1-36) following low doses of a whey protein-rich nutraceutic. Mediterranean journal of nutrition and metabolism, 6(3), 259–266. https://doi.org/10.1007/s12349-013-0121-7

 

Konsultasi Diabetes

Konsultasi Diabetes

Temukan solusi bersama ahli.