Medically Reviewed by: dr Aditya Nugroho - Healthcare Communicator Kalbe Nutritionals
Referensi:
Diabetes bukan hanya berisiko pada orang dengan berat badan berlebih. Bahkan mereka yang terlihat kurus juga tetap perlu waspada, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga, kadar lemak visceral yang tinggi, atau gaya hidup yang kurang aktif.
Penting untuk mulai menjaga kesehatan sejak dini untuk menurunkan risiko diabetes, salah satunya dengan menerapkan pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat, memilih asupan dengan indeks glikemik rendah, serta memantau kondisi kesehatan secara berkala.
Ada banyak mitos terkait diabetes yang masih sering dipercaya oleh masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa hanya orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang dapat mengalami diabetes.
Padahal, orang bertubuh ramping pun tetap bisa mengalami prediabetes maupun diabetes tipe 2. Meskipun berat badan merupakan salah satu faktor risiko, kondisi ini tidak menjadi satu-satunya penentu, karena masih ada faktor lain seperti usia, riwayat keluarga, serta faktor gaya hidup.
Jadi, apakah orang kurus juga bisa berisiko terkena diabetes? Jawabannya iya. Diabetes tipe 2 juga dapat terjadi pada orang dengan berat badan yang tampak ideal.
Beberapa studi observasional, termasuk penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association (JAMA) berjudul “Association of Weight Status With Mortality in Adults With Incident Diabetes”, menunjukkan bahwa individu dengan berat badan normal yang didiagnosis diabetes tipe 2 dapat memiliki risiko komplikasi dan mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan kelebihan berat badan. Namun, temuan ini bersifat observasional dan tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Fenomena ini dikenal sebagai obesity paradox, yaitu kondisi di mana pada beberapa penyakit kronis seperti gagal jantung atau penyakit ginjal stadium akhir, pasien dengan berat badan lebih tinggi tampak memiliki hasil klinis yang lebih baik.
Meski demikian, hal ini tidak berarti kelebihan berat badan lebih sehat. Banyak faktor lain seperti komposisi tubuh, distribusi lemak, kebugaran, serta kondisi metabolik yang turut memengaruhi risiko dan keparahan diabetes tipe 2.
BACA JUGA: Kasus Diabetes di Anak Muda Meningkat di Indonesia, Bagaimana Pola Hidup Sehat yang Tepat?

Image: Freepik
Anda mungkin mengetahui bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes karena kelebihan lemak tubuh dapat menyebabkan resistensi insulin. Dalam kondisi tersebut, sensitivitas sel-sel tubuh terhadap insulin menurun, sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.
Selain itu, penumpukan lemak terutama di hati (fatty liver) dapat semakin mengganggu kerja insulin, sehingga kadar glukosa tetap tinggi dalam aliran darah. Akibatnya, pankreas harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan insulin, yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan disfungsi sel beta pankreas dan meningkatkan risiko diabetes.
Namun, apa hubungannya orang kurus dengan risiko diabetes?
Orang kurus yang mengalami diabetes tipe 2 sering kali memiliki kondisi di mana berat badan terlihat normal, tetapi lemak di dalam tubuhnya sebenarnya lebih tinggi dari yang terlihat. Kondisi ini berkaitan dengan penumpukan lemak di sekitar organ dalam, yang disebut lemak visceral.
Indeks massa tubuh (IMT) memang sering digunakan untuk menilai risiko kesehatan, tetapi angka ini tidak selalu menggambarkan seberapa banyak lemak di dalam tubuh atau bagaimana penyebarannya.
Pada sebagian orang, lemak dapat lebih banyak menumpuk di area perut tanpa terlihat dari luar. Semakin banyak lemak di area ini, semakin besar risiko tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
BACA JUGA: Bahaya Perut Buncit dan Dampaknya bagi Kesehatan
Selain massa lemak tubuh, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko diabetes pada orang dengan berat badan normal maupun kurus.
Riwayat keluarga memiliki peran penting dalam meningkatkan risiko diabetes, terlepas dari berat badan seseorang. Baik kurus, berat badan normal, maupun obesitas tetap dapat memiliki risiko jika terdapat anggota keluarga yang mengidap diabetes.
Seseorang dengan orang tua yang memiliki diabetes diketahui memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan individu tanpa riwayat keluarga, meskipun besarnya risiko dapat bervariasi tergantung faktor lain.
Kehamilan juga dapat menjadi salah satu faktor risiko diabetes melalui kondisi yang disebut diabetes gestasional. Kondisi ini biasanya terdeteksi pada trimester kedua atau ketiga kehamilan.
Diabetes gestasional terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi cukup insulin untuk mengontrol kadar gula darah selama masa kehamilan, sehingga kadar gula darah meningkat.
Kondisi ini umumnya dapat dikendalikan dengan pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pengobatan jika diperlukan. Dengan pengelolaan yang baik, risiko komplikasi pada ibu dan bayi dapat diminimalkan.
Sedentary lifestyle adalah pola hidup dengan aktivitas fisik yang rendah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik, termasuk diabetes melitus, bahkan pada individu dengan berat badan normal atau kurus.
Gaya hidup tidak aktif juga berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit lain seperti penyakit kardiovaskular, hipertensi, dan gangguan metabolik lainnya.
Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya menjadikan berat badan sebagai satu-satunya indikator risiko diabetes. Risiko diabetes dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang tidak dapat diubah seperti riwayat keluarga, maupun faktor yang dapat dimodifikasi seperti pola makan dan aktivitas fisik.

Selain itu, memilih asupan yang tepat juga berperan penting dalam membantu menjaga kestabilan gula darah. Konsumsi makanan dengan indeks glikemiks rendah serta nutrisi yang seimbang dapat membantu tubuh mengontrol pelepasan glukosa secara lebih optimal.
Sebagai pelengkap dari pola hidup sehat, konsumsi Diabetasol Milk yang diformulasikan dengan nutrisi lengkap dan mempunyai GI yang rendah.
Diabetasol Milk diperkaya dengan Vita Digest yang membantu mengurangi terjadinya lonjakan gula darah. Diabetasol Milk dianjurkan untuk dikonsumsi 2 kali sehari, masing-masing 4 sendok takar.
Beberapa kandungan nutrisi dalam Diabetasol Milk yang mendukung pelepasan energi lebih stabil antara lain:
Isomaltulosa, karbohidrat lepas lambat yang membantu menjaga gula darah tetap stabil dan memberi rasa kenyang lebih lama, sehingga mendukung Diabetasol Milk sebagai minuman dengan indeks glikemik rendah (GI = 44)
Vitamin A, C, dan E serta zinc untuk membantu menjaga daya tahan tubuh
Sumber serat untuk mendukung kesehatan pencernaan
Protein dengan whey berkualitas tinggi yang lebih mudah dicerna tubuh
Rendah laktosa
Tanpa penambahan gula pasir
Bebas gluten
Mulai jalani hidup yang lebih sehat dan cek risiko diabetes Anda di website Diabetasol. Jalani hari lebih tenang dengan pola hidup sehat dan nutrisi seimbang. Enjoy Aja, Why Not? Kan Ada DIA.
FAQ
Tidak benar. Orang kurus tetap bisa terkena diabetes, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga, lemak visceral yang tinggi, atau gaya hidup kurang aktif. Beberapa studi menunjukkan bahwa orang dengan berat badan normal yang terkena diabetes tipe 2 juga dapat memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, termasuk penyakit jantung.
Lemak visceral di area perut dapat mengganggu kerja insulin dan meningkatkan resistensi insulin, sehingga kadar gula darah menjadi lebih sulit dikontrol.
Ada banyak faktor risiko diabetes selain berat badan, seperti usia, riwayat keluarga, pola makan, kehamilan (diabetes gestasional), dan gaya hidup sedentari.
Meskipun tubuh terlihat kurus, pencegahan diabetes tetap penting karena risiko tidak hanya ditentukan oleh berat badan. Anda bisa mulai dengan menjaga pola makan seimbang, memilih makanan dengan indeks glikemik rendah, serta membatasi asupan gula dan karbohidrat olahan. Perhatikan juga komposisi tubuh, terutama lemak di area perut yang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin.
Referensi:
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2024). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2024 (PB PERKENI, Ed.).
Harvard Health Publishing. (2012). Diabetes can strike hard even when weight is normal. Diakses 9 April 2026, dari https://www.health.harvard.edu/blog/diabetes-can-strike-hard-even-when-weight-is-normal-201208085121
JAMA Network. (2012). Association of Weight Status With Mortality in Adults With Incident Diabetes. Diakses 9 April 2026, dari https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/1309174
Kahn, B. B., & Flier, J. S. (2000). Obesity and insulin resistance. The Journal of clinical investigation, 106(4), 473–481. https://doi.org/10.1172/JCI10842
Cetin, E. G., Demir, N., & Sen, I. (2020). The Relationship between Insulin Resistance and Liver Damage in non-alcoholic Fatty Liver Patients. Sisli Etfal Hastanesi tip bulteni, 54(4), 411–415. https://doi.org/10.14744/SEMB.2018.83604
Cerf M. E. (2013). Beta cell dysfunction and insulin resistance. Frontiers in endocrinology, 4, 37. https://doi.org/10.3389/fendo.2013.00037
Dhokte, S., & Czaja, K. (2024). Visceral Adipose Tissue: The Hidden Culprit for Type 2 Diabetes. Nutrients, 16(7), 1015. https://doi.org/10.3390/nu16071015
Ali O. Genetics of type 2 diabetes. World J Diabetes 2013; 4(4): 114-123 [PMID: 23961321 DOI: 10.4239/wjd.v4.i4.114]
Website, N. (2026, April 2). Gestational diabetes. nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/gestational-diabetes/
Mayo Clinic. (2025). Gestational diabetes: Symptoms & causes. Diakses 9 April 2026, dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gestational-diabetes/symptoms-causes/syc-20355339
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Mengatasi Ancaman Sedentary Lifestyle untuk Kesehatan. Diakses 9 April 2026, dari https://ayosehat.kemkes.go.id/mengatasi-ancaman-sedentary-lifestyle-untuk-kesehatan