Ringkasan:
Banyak orang merasa sudah aman dari risiko diabetes karena menghindari makanan manis. Padahal, kadar gula darah tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh makanan manis.
Sumber karbohidrat seperti nasi putih, roti tawar, dan mi juga dapat meningkatkan kadar gula darah meskipun tidak terasa manis.
Stres memicu peningkatan hormon kortisol yang dapat merangsang hati melepaskan gula ke dalam darah, sehingga kadar gula darah naik.
Gaya hidup kurang aktif (sedenter) atau jarang bergerak dapat menurunkan sensitivitas insulin, sehingga kadar gula darah lebih mudah naik dan risiko diabetes pun meningkat.
Banyak orang merasa sudah aman dari risiko gula darah tinggi setelah berhenti mengonsumsi donat, minuman boba, atau kopi susu. Namun saat diperiksa, kadar gula darahnya sering kali tetap tinggi.
Kondisi ini tentu membingungkan karena rasanya sudah tidak lagi mengonsumsi makanan manis, tetapi hasil pemeriksaan tidak sesuai harapan. Tahukah Anda, penyebab gula darah naik tidak selalu berasal dari makanan manis?
Yuk, simak faktor-faktor lain yang juga dapat memicu kenaikan gula darah!
Karbohidrat merupakan sumber gula yang sering tidak disadari. Banyak orang berpikir bahwa hanya makanan manis yang dapat menaikkan gula darah. Padahal, semua karbohidrat yang dikonsumsi akan dipecah oleh tubuh menjadi glukosa.
Nasi putih, roti, pasta, hingga mi instan dapat meningkatkan gula darah, bahkan makanan yang sering dianggap lebih sehat seperti nasi merah tetap dapat memicu kenaikan gula darah jika dikonsumsi dalam porsi yang berlebihan.
Oleh karena itu, menjaga gula darah bukan hanya soal menghindari makanan manis, tetapi juga memerhatikan jumlah dan jenis karbohidrat yang dikonsumsi.
BACA JUGA: Faktor Risiko Diabetes: Apa Saja yang Harus Diketahui?
Selain makanan, kondisi mental juga bisa memengaruhi kadar gula darah. Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin (epinefrin).
Hormon-hormon ini membantu menyediakan energi tambahan bagi tubuh dengan merangsang hati melepaskan cadangan glukosa ke dalam aliran darah. Akibatnya, orang yang sedang mengalami tekanan pikiran atau kelelahan berat dapat mengalami kenaikan gula darah, bahkan ketika tidak sedang makan.
Banyak orang kaget ketika mengetahui bahwa kadar gula darahnya tinggi saat bangun pagi. Kondisi ini dikenal sebagai dawn phenomenon atau fenomena fajar, yang biasanya terjadi sekitar pukul 03.00-08.00.
Pada dini hari, tubuh secara alami melepaskan hormon seperti kortisol dan hormon pertumbuhan untuk mempersiapkan tubuh menjalankan aktivitas di pagi hari. Hormon-hormon ini dapat merangsang hati melepaskan glukosa ke dalam aliran darah sehingga kadar gula darah meningkat.
Masalahnya, jika kualitas tidur buruk atau seseorang kurang tidur, kemampuan tubuh dalam mengatur gula darah dapat terganggu. Sensitivitas insulin dapat menurun sehingga kadar gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan.
Hal sederhana seperti kurang minum air juga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan gula darah. Saat tubuh mengalami dehidrasi, volume plasma darah menurun sehingga kadar gula darah dapat terdeteksi lebih tinggi.
Selain itu, beberapa jenis obat seperti steroid dan diuretik juga diketahui dapat meningkatkan kadar gula darah melalui berbagai mekanisme di dalam tubuh.
Faktor terakhir yang sering diabaikan adalah aktivitas fisik. Tanpa olahraga atau aktivitas yang cukup, otot tidak menggunakan glukosa secara optimal sebagai sumber energi. Akibatnya, gula lebih banyak tertinggal di dalam aliran darah. Itulah sebabnya gaya hidup sedenter atau kurang gerak berhubungan dengan kadar gula darah yang lebih sulit dikendalikan.
Memahami berbagai faktor ini membantu kita menyadari bahwa gula darah tidak hanya dipengaruhi oleh makanan manis. Pola makan, stres, kualitas tidur, hidrasi, dan aktivitas fisik semuanya ikut berperan dalam menjaga kadar gula tetap stabil.
BACA JUGA: Rekomendasi Snack Rendah Kalori dan Gula untuk Diabetesi
Selain membatasi konsumsi makanan manis, menjaga keseimbangan nutrisi harian juga tidak kalah penting. Asupan karbohidrat yang terkontrol, ditambah protein, serat, vitamin, dan mineral, membantu tubuh melepaskan energi secara lebih bertahap sehingga kadar gula darah tidak mudah naik secara tiba-tiba.
Namun, jika Anda masih memiliki rasa ingin mengemil, salah satu pilihan camilan yang bisa dipertimbangkan adalah Nulife Wafer. Nulife Wafer adalah camilan rendah kalori, tanpa gula, dan tinggi serat.
Nulife Wafer dapat dikonsumsi sebagai camilan di sela waktu makan. Kehadirannya bisa menjadi alternatif praktis saat ingin menikmati makanan ringan tanpa harus khawatir berlebihan terhadap asupan gula harian.
Beberapa kandungan nutrisi dalam Nulife Wafer antara lain:
Serat pangan yang membantu memperlambat penyerapan gula dalam tubuh
Vitamin dan mineral yang membantu mendukung kebutuhan nutrisi harian
Tanpa tambahan gula pasir, sehingga lebih ramah untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali.
Dengan memilih camilan yang lebih tepat dan memperhatikan komposisi nutrisinya, pengelolaan gula darah dapat menjadi lebih baik. Hal ini penting terutama bagi mereka yang tetap ingin menikmati camilan, tetapi tetap berupaya menjaga kestabilan kadar gula darah sepanjang hari.
Gula darah tidak hanya dipengaruhi oleh makanan manis. Karbohidrat seperti nasi, roti, mie, dan pasta juga akan diubah menjadi glukosa oleh tubuh. Jika porsinya tidak terkontrol, makanan tersebut tetap bisa menyebabkan kadar gula darah meningkat.
Nasi putih merupakan sumber karbohidrat sederhana yang mudah dicerna oleh tubuh dan akan diubah menjadi glukosa. Meskipun rasanya tidak manis, konsumsi dalam porsi berlebihan tetap dapat menyebabkan kenaikan gula darah yang cukup bermakna.
Saat stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin (epinefrin) sebagai respons alami. Hormon-hormon ini merangsang hati melepaskan cadangan glukosa ke dalam aliran darah untuk menyediakan energi tambahan bagi tubuh. Akibatnya, kadar gula darah dapat meningkat meskipun seseorang tidak sedang makan.
Fenomena fajar adalah kondisi ketika kadar gula darah meningkat secara alami pada dini hari, biasanya sekitar pukul 03.00-08.00. Hal ini dipicu oleh pelepasan hormon seperti hormon pertumbuhan dan kortisol yang membantu mempersiapkan tubuh untuk menjalankan aktivitas di pagi hari.
Pilih camilan dengan indeks glikemik lebih rendah serta mengandung serat dan nutrisi yang seimbang, seperti Nulife Wafer. Camilan seperti wafer khusus yang diformulasikan untuk membantu menjaga kestabilan gula darah dapat menjadi salah satu alternatif.
REFERENSI:
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2022). Diakses pada 13 Maret 2026, dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1682/memilih-makanan-sumber-karbohidrat-untuk-menjaga-kadar-gula-darah
Good to Know: Factors Affecting Blood Glucose. (2018). Clinical diabetes : a publication of the American Diabetes Association, 36(2), 202. https://doi.org/10.2337/cd18-0012
Holesh JE, Aslam S, Martin A. Physiology, Carbohydrates. [Updated 2023 May 12]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Diakses pada 13 Maret 2026, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459280/
Lannon, R. (2024). How stress hormones affect blood sugar levels in diabetes. African Journal of Diabetes Medicine, 32–32(05). https://www.africanjournalofdiabetesmedicine.com/articles/how-stress-hormones-affect-blood-sugar-levels-in-diabetes.pdf
O'Neal TB, Luther EE. Dawn Phenomenon. [Updated 2023 May 16]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Diakses pada 12 Maret 2026, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430893/
Atiea, J. A., Luzio, S., & Owens, D. R. (1992). The dawn phenomenon and diabetes control in treated NIDDM and IDDM patients. Diabetes research and clinical practice, 16(3), 183–190. https://doi.org/10.1016/0168-8227(92)90115-8
Ashraf, M.M. and Rea, R. (2017), Effect of dehydration on blood tests. Pract Diab, 34: 169-171. https://doi.org/10.1002/pdi.2111
Jain, A. B., & Lai, V. (2024). Medication-Induced Hyperglycemia and Diabetes Mellitus: A Review of Current Literature and Practical Management Strategies. Diabetes therapy : research, treatment and education of diabetes and related disorders, 15(9), 2001–2025. https://doi.org/10.1007/s13300-024-01628-0
irhaz, shofia malika, prasestiyo, hamudi, & asnindari, lutfi nurdian. (2025). The Role of Physical Activity in Reducing Random Blood Glucose Levels Among Elderly Patients with Type 2 Diabetes Mellitus. Journal of Nursing Palliative Care, 1(1), 9–17. https://doi.org/10.31101/jnpac.v1i1.4141