Pernah merasa lebih kenyang setelah makan makanan yang mengandung cukup protein? Hal ini ternyata tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang kita konsumsi. Setelah makan, saluran pencernaan juga menghasilkan berbagai hormon yang membantu tubuh mengatur rasa lapar dan kenyang.
Dua hormon yang berperan dalam proses ini adalah GLP-1 (glucagon-like peptide-1) dan PYY (peptide YY). Keduanya diproduksi oleh sel-sel tertentu di saluran pencernaan dan ikut mengirimkan sinyal yang berkaitan dengan rasa kenyang ke otak.
Menariknya, jenis zat gizi yang kita konsumsi dapat memengaruhi pelepasan hormon-hormon tersebut.
Sebuah penelitian membandingkan respons tubuh setelah mengonsumsi tiga jenis sarapan dengan jumlah kalori dan volume yang sama. Perbedaannya adalah komposisi zat gizinya: satu sarapan tinggi protein, satu tinggi karbohidrat, dan satu tinggi lemak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarapan tinggi protein menghasilkan peningkatan GLP-1 dan PYY yang lebih tinggi dibandingkan sarapan tinggi karbohidrat maupun tinggi lemak.
Hal ini diduga berkaitan dengan proses pencernaan protein. Ketika protein dicerna, protein akan diuraikan menjadi peptida dan asam amino. Zat-zat tersebut kemudian dapat merangsang sel-sel di saluran pencernaan untuk melepaskan hormon seperti GLP-1 dan PYY.
Dengan demikian, protein tidak hanya berperan sebagai sumber asam amino bagi tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai sinyal yang berasal dari saluran pencernaan setelah makan.
BACA JUGA: Ide Menu Sarapan Tinggi Serat & Protein, Kenyang Lebih Lama dan Siap Aktivitas Seharian
GLP-1 dan PYY merupakan bagian dari sistem yang membantu tubuh mengatur nafsu makan.
Setelah makan, peningkatan kedua hormon ini dapat memberikan sinyal dari saluran pencernaan ke otak yang berkaitan dengan rasa kenyang. Sinyal tersebut merupakan salah satu bagian dari mekanisme tubuh dalam mengatur kapan kita merasa lapar dan kapan kita berhenti makan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa rasa lapar dan kenyang tidak dikendalikan oleh satu hormon saja. Kondisi tubuh, jenis dan jumlah makanan, sinyal dari saluran pencernaan, serta berbagai mekanisme di otak semuanya dapat memengaruhi nafsu makan.
Belum tentu.
Ini merupakan salah satu temuan penting dari penelitian tersebut.
Walaupun kadar GLP-1 dan PYY lebih tinggi setelah sarapan tinggi protein, peneliti tidak menemukan perbedaan yang bermakna dalam rasa lapar, rasa kenyang, maupun jumlah energi yang dikonsumsi pada waktu makan berikutnya.
Dengan kata lain, peningkatan hormon yang berkaitan dengan sinyal kenyang tidak secara otomatis membuat seseorang merasa lebih kenyang atau makan lebih sedikit.
Penelitian ini juga dilakukan pada jumlah peserta yang kecil, yaitu hanya delapan orang dewasa sehat. Oleh karena itu, hasilnya perlu dipahami sebagai temuan dari penelitian tersebut dan tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua orang akan mengalami respons yang sama.
Protein dapat memengaruhi respons tubuh setelah makan, salah satunya melalui peningkatan pelepasan hormon GLP-1 dan PYY.
Kedua hormon tersebut berperan dalam sistem pengaturan nafsu makan dan rasa kenyang. Namun, respons hormon tidak berdiri sendiri. Peningkatan GLP-1 dan PYY tidak selalu berarti seseorang akan merasa lebih kenyang atau mengonsumsi lebih sedikit makanan.
Oleh karena itu, ketika membahas hubungan antara protein dan rasa kenyang, kita sebaiknya tidak hanya melihat satu hormon, tetapi memahami bahwa pengaturan nafsu makan merupakan proses yang kompleks dan melibatkan berbagai sinyal dari saluran pencernaan dan otak.
Protein → dicerna menjadi peptida & asam amino → merangsang pelepasan GLP-1 dan PYY → ikut memberikan sinyal terkait rasa kenyang.
Namun, peningkatan GLP-1 dan PYY tidak selalu berarti makan lebih sedikit.
van der Klaauw, A. A., Keogh, J. M., Henning, E., Trowse, V. M., Dhillo, W. S., Ghatei, M. A., & Farooqi, I. S. (2013). High protein intake stimulates postprandial GLP1 and PYY release. Obesity (Silver Spring, Md.), 21(8), 1602–1607. https://doi.org/10.1002/oby.20154