Ringkasan Artikel
Kasus diabetes pada anak dan remaja di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia.
Faktor risiko utama meliputi riwayat keluarga, obesitas, pola makan tinggi gula, kurang aktivitas fisik, dan stres.
Penerapan pola hidup sehat sejak dini dapat membantu menurunkan risiko dan menjaga kualitas hidup jangka panjang.
Penyakit diabetes kini tak lagi hanya dialami oleh orang dewasa dan lanjut usia. Di Indonesia, ancaman diabetes sudah menyentuh generasi yang lebih muda, termasuk anak dan remaja. Tentunya, ini menjadi masalah serius yang perlu diperhatikan oleh seluruh keluarga.
Ancaman diabetes di Indonesia kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data tahun 2024 dari International Diabetes Federation (IDF), Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak di dunia dan menempati peringkat ke-5 secara global. Jumlahnya diperkirakan mencapai 20.426.400, dan angka ini diproyeksikan terus meningkat secara signifikan hingga tahun 2050.
Situasi ini semakin kompleks karena masih banyak kasus yang belum terdeteksi. Mengacu pada “Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) Indonesia 2024” dari PERKENI, sekitar 70% penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan belum terdiagnosis.
Dari mereka yang sudah terdiagnosis, hanya sekitar ⅔ pasien yang mendapatkan penanganan, baik farmakologis maupun non-farmakologis. Dari yang mendapatkan pengobatan, hanya sepertiga saja yang kondisinya terkendali dengan baik.
Tidak hanya itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan bahwa per Januari 2023 terdapat 1.645 anak yang menderita diabetes atau setara 2 kasus per 100.000 anak. Angka ini meningkat 70 kali lipat dibandingkan tahun 2010 yang hanya 0,028 kasus per 100.000 anak.
Berdasarkan usia, sebaran kasus diabetes pada anak sebagai berikut:
0-4 tahun: 19 persen
5-9 tahun: 31,05 persen
10-14 tahun: 46,23 persen
Lebih dari 14 tahun: 3 persen
Berdasarkan jenis kelamin, sebaran kasus diabetes pada anak sebagai berikut:
Laki-laki: 40,7 persen
Perempuan: 59,3 persen
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa angka diabetes pada usia muda sebenarnya lebih tinggi dari yang terlihat. Pada kelompok usia 15-24 tahun, prevalensi berdasarkan diagnosis dokter tercatat kurang dari 0,05%. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah, angkanya mencapai 1,8%.
Hal serupa terlihat pada kelompok usia 25-34 tahun. Hanya 0,2% yang tercatat telah didiagnosis dokter, tetapi hasil pemeriksaan gula darah menunjukkan angka hingga 5,3%.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa masih banyak anak muda yang belum menyadari dirinya memiliki kadar gula darah tinggi. Artinya, tanpa pemeriksaan rutin, diabetes bisa berkembang secara diam-diam tanpa terdeteksi sejak awal.
Data atau informasi yang ada menunjukkan bahwa diabetes dapat dialami oleh semua kelompok usia.
Mengetahui faktor risiko diabetes menjadi salah satu langkah untuk mencegah dan mengendalikan penyakit ini. Secara garis besar, faktor risiko diabetes dapat dibedakan menjadi faktor risiko yang tidak bisa dan bisa dihindari.
Ras dan etnis
Riwayat keluarga dengan diabetes
Umur: Risiko gangguan metabolisme glukosa meningkat seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, individu berusia di atas 40 tahun dianjurkan untuk melakukan skrining diabetes secara rutin.
Wanita yang pernah melahirkan bayi dengan berat badan lahir >4000 gram atau pernah mengalami diabetes selama masa kehamilan.
Bayi yang lahir dengan berat badan rendah (<2,5 kg) mempunyai risiko lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal.
Meskipun tidak bisa dihindari, faktor risiko di atas bisa jadi alarm untuk Anda menerapkan pola hidup lebih sehat.
Berat badan berlebih atau obesitas menjadi salah satu faktor utama untuk diabetes tipe 2 karena lemak perut bisa meningkatkan risiko terkait dengan resistensi insulin.
Kurangnya aktivitas fisik atau gaya hidup sedentari turut meningkatkan risiko diabetes.
Pola makan buruk yang kaya akan gula tambahan, lemak jenuh, dan rendah serat bisa meningkatkan risiko diabetes. Ganti makanan tidak sehat dengan yang lebih sehat untuk menurunkan risiko.
Hipertensi dan kolesterol abnormal juga menjadi faktor risiko. Kelola kondisi tersebut untuk mengurangi risiko diabetes.
Dengan memahami faktor risiko diabetes, Anda bisa mendeteksi dini dan melakukan pencegahan secara efektif. Pelajari lebih lanjut mengenai “Faktor Risiko Diabetes: Apa Saja yang Harus Diketahui?” dalam artikel tersebut.
Pola hidup sehat bukan lagi jadi tren. Di tengah makin banyaknya kasus diabetes pada usia muda, membiasakan gaya hidup sehat sejak dini bukan cuma untuk mencegah penyakit, tapi juga untuk menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.
Bagaimana menerapkan pola hidup sehat?
Makanan dengan indeks glikemik (IG) rendah dicerna lebih lambat oleh tubuh, sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Contohnya antara lain sayuran non-tepung, biji-bijian, dan beberapa jenis buah.
Selain itu, perbanyak asupan serat dari sayur dan buah, karena dapat membantu memperlambat penyerapan glukosa ke dalam darah untuk mendukung kontrol gula darah menjadi lebih baik.
BACA JUGA: Tentang Indeks Glikemik, Si Penentu Kadar Gula Darah pada Tubuh
Aktivitas fisik dan latihan fisik minimal 30 menit per hari atau 150 menit per minggu punya banyak manfaat, salah satunya membuat hormon pengatur gula darah (insulin) menjadi lebih sensitif sehingga mencegah diabetes.
Manfaat lain:
Menjaga berat badan ideal agar tidak obesitas
Meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan mental
Memperbaiki kualitas tidur
Membantu mengatur tekanan darah
BACA JUGA: Olahraga Ringan di Rumah untuk Jaga Gula Darah Tetap Stabil
Mematuhi waktu sarapan, makan siang, dan makan malam dengan jadwal teratur bisa membantu mengurangi beban kerja tubuh agar tidak terlalu berat dalam mencerna atau menyerap zat-zat gizi. Pengaturan waktu makan pada jam-jam tertentu bermanfaat untuk melatih perut atau lambung akan “lapar” pada waktu makan yang telah ditentukan.
Di sela-sela kesibukan atau saat asupan harian terasa belum optimal, nutrisi dengan indeks glikemik rendah dapat menjadi pelengkap untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi.
Seperti Diabetasol Milk yang mengandung Isomaltulosa, Omega 3 & Omega 6, Protein, Tinggi Kalsium & Vit D, Tinggi Vit C, E, dan Sumber Zinc, hingga Rendah Laktosa yang membantu rasa kenyang lebih lama serta membantu menjaga pelepasan gula darah secara bertahap.
Stres berkepanjangan juga berdampak pada meningkatnya kadar gula darah karena hormon kortisol yang dihasilkan tubuh bisa memengaruhi kinerja insulin. Lakukan hal yang Anda senangi dan pelajari berbagai teknik relaksasi untuk mengurangi stres.
Pada kondisi obesitas, sistem metabolisme dapat terganggu sehingga sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin.
Selain berolahraga, penting juga untuk memperhatikan asupan gula harian. Konsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan dapat memicu gangguan metabolisme, mengganggu kerja insulin, serta meningkatkan risiko kenaikan berat badan hingga berujung pada obesitas.
BACA JUGA: Bahaya Perut Buncit dan Dampaknya bagi Kesehatan

Meningkatnya kasus diabetes di usia muda menjadi pengingat bahwa menjaga kadar gula darah tidak hanya penting bagi mereka yang sudah terdiagnosis prediabetes atau diabetes, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin hidup lebih sehat.
Mulailah menerapkan pola hidup sehat, bukan hanya dengan mengurangi konsumsi gula, tetapi juga dengan memilih makanan bergizi, menghindari rokok, rutin berolahraga, cukup istirahat, serta mengelola stres dengan baik
Anda tidak perlu repot atau khawatir dalam memenuhi kebutuhan gizi harian sekaligus menjaga keseimbangan gula darah. Diabetasol Milk hadir sebagai pengganti makanan dengan nutrisi lengkap dan seimbang serta indeks glikemik rendah. Dilengkapi kandungan Vita Digest dengan isomaltulosa, yaitu karbohidrat lepas lambat yang membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Anda juga bisa Cek Risiko Diabetes pada halaman website Diabetasol, sekaligus berkonsultasi dengan ahli gizi kami.
FAQ
1. Apakah benar kasus diabetes pada anak muda di Indonesia meningkat?
Ya, benar. Data menunjukkan adanya peningkatan kasus diabetes pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia.
2. Apakah diabetes di usia muda bisa dicegah?
Risiko diabetes tipe 2 dapat ditekan dengan menerapkan pola hidup sehat sejak dini. Mengatur asupan gula dan makanan, memilih karbohidrat dengan indeks glikemik rendah, memperbanyak konsumsi serat, rutin berolahraga, serta menjaga berat badan ideal merupakan langkah-langkah yang dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.
3. Apakah riwayat keluarga pasti membuat seseorang terkena diabetes?
Belum tentu, tetapi dapat meningkatkan risikonya. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki diabetes, maka risiko seseorang menjadi lebih tinggi. Namun, menerapkan pola hidup sehat tetap dapat membantu menurunkan risiko tersebut.
4. Berapa lama olahraga yang disarankan untuk mencegah diabetes?
Minimal 150 menit per minggu atau sekitar 30 menit per hari dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat atau bersepeda.
5. Apakah Diabetasol bisa membantu mendukung kontrol gula darah?
Diabetasol mengandung isomaltulosa, yaitu karbohidrat lepas lambat dengan indeks glikemik rendah. Jenis karbohidrat jenis ini dicerna lebih perlahan, sehingga membantu pelepasan gula ke dalam darah berlangsung secara lebih bertahap.
REFERENSI
International Diabetes Federation. (2025, May 20). Indonesia - International Diabetes Federation. Diakses pada 25 Februari 2026, dari https://idf.org/our-network/regions-and-members/western-pacific/members/indonesia/?utm
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2024). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2024 (PB PERKENI, Ed.).
LAPORAN SKI 2023 DALAM ANGKA_REVISI I_OK.pdf. (n.d.). Google Docs. Diakses pada 25 Februari 2026, dari https://drive.google.com/file/d/1rjNDG_f8xG6-Y9wmhJUnXhJ-vUFevVJC/view
Jenkins, D. J., Kendall, C. W., McKeown-Eyssen, G., Josse, R. G., Silverberg, J., Booth, G. L., Vidgen, E., Josse, A. R., Nguyen, T. H., Corrigan, S., Banach, M. S., Ares, S., Mitchell, S., Emam, A., Augustin, L. S., Parker, T. L., & Leiter, L. A. (2008). Effect of a low-glycemic index or a high-cereal fiber diet on type 2 diabetes: a randomized trial. JAMA, 300(23), 2742–2753. https://doi.org/10.1001/jama.2008.808
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (n.d.). Diakses pada 25 Februari 2026, dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3810/mengenal-diet-diabetes-mellitus
Ortiz, R., Kluwe, B., Odei, J. B., Echouffo Tcheugui, J. B., Sims, M., Kalyani, R. R., Bertoni, A. G., Golden, S. H., & Joseph, J. J. (2019). The association of morning serum cortisol with glucose metabolism and diabetes: The Jackson Heart Study. Psychoneuroendocrinology, 103, 25–32. https://doi.org/10.1016/j.psyneuen.2018.12.237
The Ohio State University Wexner Medical Center. (2020, July 17). Study links stress hormone with higher blood sugar in Type 2 diabetes. ScienceDaily. Diakses pada 25 Februari 2026, dari www.sciencedaily.com/releases/2020/07/200713104404.htm
Ohira, M., Kawagoe, N., Kameyama, C., Kondou, Y., Igarashi, M., & Ueshiba, H. (2025). Association of serum cortisol with insulin secretion and plasma aldosterone with insulin resistance in untreated type 2 diabetes: a cross-sectional study. Diabetology & metabolic syndrome, 17(1), 144. https://doi.org/10.1186/s13098-025-01706-8
Danielsson, A., Fagerholm, S., Ost, A., Franck, N., Kjolhede, P., Nystrom, F. H., & Strålfors, P. (2009). Short-term overeating induces insulin resistance in fat cells in lean human subjects. Molecular medicine (Cambridge, Mass.), 15(7-8), 228–234. https://doi.org/10.2119/molmed.2009.00037
Joslowski, G., Halim, J., Goletzke, J., Gow, M., Ho, M., Louie, J. C., Buyken, A. E., Cowell, C. T., & Garnett, S. P. (2015). Dietary glycemic load, insulin load, and weight loss in obese, insulin resistant adolescents: RESIST study. Clinical nutrition (Edinburgh, Scotland), 34(1), 89–94. https://doi.org/10.1016/j.clnu.2014.01.015
Menkes: Mari kita cegah diabetes dengan CERDIK. (2016, April 7). Kemenkes. Diakses pada 25 Februari 2026, dari https://kemkes.go.id/id/menkes-mari-kita-cegah-diabetes-dengan-cerdik
Maresch, C. C., Petry, S. F., Theis, S., Bosy-Westphal, A., & Linn, T. (2017). Low Glycemic Index Prototype Isomaltulose-Update of Clinical Trials. Nutrients, 9(4), 381. https://doi.org/10.3390/nu9040381